Swadharma atau kewajiban warga pande dimuat dalam prasasti Pande Bratan. Ada dua kewajiban utama atau profesi warga Pande yang disebut Dwilaba, sebagai dua profesi dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kesejahteraan hidup. Dwilaba ini terdiri dari Angandring dan Amande Galuh. Swadarma warga pande diwujudkan dalam bentuk bhisama Dewa Brahma Kepada Mpu Brahmaraja. Adapun Swadharma warga Pande dimaksud dapat disimak pada kutipan berikut :
" ....kamung rare, anakku kita Mpu Brahmaraja, iki hana panganugrahankwi ri kita, pinakopajiwa akirtya hayu, iki hana karya dwilabha ngaranya, lwirnya angandring amande galuh. Angandring ngaran akarya sarwa lelandep. Amande galuh ngaran akarya sampiran, pinaka bhusana ning wiku mwang bhusana ning ksatriya abhiseka ratu...."
Artinya :
"Wahai anakku Mpu Brahmaraja, aku mempunyai anugrah buatmu, sebagai jalan kehidupan dengan berbuat jasa kebaikan, yakni dua jenis pekerjaan yang disebut Dwilaba, terdiri dari angandring dan amande galuh. Angandring adalah pekerjaan membuat segala jenis senjata tajam. Amande galuh adalah bekerja membuat busana atribut sebagai busana (perlengkapan) para wiku (pendeta) serta pakaian kebesaran bagi para ksatria ketika dinobatkan menjadi raja"
dari pesan tersebut sangat jelas disebutkan bahwa untuk sukses dalam menjalani kehidupan seorang keturunan Pande wajib melakukan jenis pekerjaan Dwilaba tersebut menjadi seorang Pande untuk membuat perabotan rumah tangga atau petani, dan opsi kedua adalah melakukan kegiatan berkaitan dengan busana dan peralatan persembahyangan sang wiku. Namun kenyataanya dijaman sekarang banyak generasi penerus tidak melakukan dua pekerjaan tersebut, karena perubahan jaman, ada pekerjaan yang mengabdi kepada negara, menjadi Pegawai Negeri ada pekerjaan mengabdi ke Perusahaan Swasta, atau pekerjaan mandiri jadi pengusaha.
Kalau berdasarkan petikan pesan tersebut di jaman sekarang yang bisa bertahan dengan pekerjaan tersebut masih bisa sesuai dengan ajaran leluhur, namun yang tidak dapat menjalankan hal tersebut janganlah berkecil hati. Secara harfiah kita bisa lihat awal kalimat dari pesan tersebut adalah "Wahai anakku Mpu Brahmaraja, aku mempunyai anugrah buatmu, sebagai jalan kehidupan dengan berbuat jasa kebaikan" Kalimat ini yang harus ditekankan artinya kita sebagai seorang Pande jang sesekali melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain, kita harus selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, kejujuran dan melayani sepenuh hati. Jika kita melakukan pekerjaan apapun selalu mengedepankan pelayanan, kejujuran dan kebaikan orang lain maka kita pasti akan sukses dalam menjalani kehidupan ini.
Misalnya jika kita punya kewajiban kita tuntaskan semua kewajiban kita tanpa menunggak (melakukannya setengah hati), dalam sebuah petikan pesan para leluhur juga ada terkait pesan kepada semua warga pande selalu memuntaskan pekerjaannya sepenuh hati sampai tuntas. Hal ini bisa disimak dalam kutipan berikut :
"...Muwah hana pawarah mami ri kita, yan kita kala angaduh kapandyanta hoyeng jagat, haywa aninggalana dharmakriya ring sariranta, Dharmakriya ngaran salwiring mandeyan tutug pragat..."
Artinya :
" Ada lagi pesanku kepadamu bahwa ketika kau melakoni profesi kepandean di bumi ini, janganlah kau meninggalkan dharmakriya yang ada dalam dirimu. Dharmakriya adalah kewajiban untuk menuntaskan segala jenis pekerjaan sebagai seorang Pande..."
Jadi kita bisa lihat pesan bahwa seorang Pande harus punya semangat dan etos kerja bekerja dengan baik dan sampai tuntas, jangan setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan apapun, pesan ini disampaikan karena ada pengalaman buruk seorang Mpu Gandring yang ditugaskan oleh Ken Arok untuk membuat keris namun ketika jatuh tempo hari pembuatan keris tersebut belum juga selesai dikerjakan oleh Mpu Gandring sehingga Ken Arok marah dan membunuh Mpu Gandring dengan keris yang belum selesai dibuatnya.
Kita bisa mengambil hikmah dari pesan itu untuk mengevaluasi diri kita, jika kita gagal dalam bekerja, sudah bekerja keras namun hasil belum sesuai harapan, hidup dalam kesulitan ekonomi. Tanyakan dalam diri kita apakah selama ini ada kewajiban yang menunggak, kewajiban kepada leluhur, kewajiban kepada atasan, kewajiban kepada lembaga pemerintah, atau kewajiban kepada saudara, kewajiban orang tua kepada anak begitu juga sebaliknya.
Selain dharmakriya ada juga pesan leluhur kepada warga Pande yang disebut dengan Astacandala yaitu delapan sikap atau prilaku yang harus dihindari seorang warga Pande yaitu :
1. Amahat : Tidak boleh minum-minuman yang memabukan (Alkohol dan Narkoba)
2. Amalanting : Tidak boleh menjadi bandar judi dan berjudi kenapa berjudi tidak boleh karena setiap kemenangan adalah kerugian bagi orang lain yang kalah judi.
3. Anjagal : Tidak boleh membunuh binatang dan menjual daging mentah
4. Amande Lemah : Tidak boleh membuat gerabah dari tanah liat
5. Anyuledang : Tidak boleh menanggap upah menumbuk padi
6. Anapis : Tidak boleh makan sisa makanan orang lain
7. Tan dadi amangan klakatu : Tidak boleh makan laron
8. Tan dadi amangan iwak pingulan : Tidak boleh makan ikan gabus
Dari delapan pantangan tersebut, pantangan minum-minuman yang memabukan dan berjudi menjadi tantangan yang perlu kita hadapi dijaman modern ini. Secara ilmiah dan dampak kesehatan dari minum-minuman alkohol memang mengurangi kemampuan berpikir dan merusak sel saraf, tidak hanya sel saraf tapi organ hati yang dalam fungsinya menetralkan zat racun yang masuk ketubuh akan bekerja keras untuk melakukan perlawanan dan mencoba menetralisir zat asam kuat yang dihasilkan alkohol dalam tubuh, sehingga jika hati tidak mampu lagi menanggulangi gempuran jumlah minuman yang masuk maka akan menyebabkan peradangan pada organ hati dan mulai lah timbuh gejala mual muntah, yang masyarakat awam mengira ini sebagai gejala pada lambung disebut "Maag" namun mereka keliru mual muntah bisa juga merupakan gejala sekunder akibat sel-sel hati mulai membengkak yang kalau di cek di medis dan didiagnosis dokter ini disebut dengan Hepatitis, lambat laun dalam waktu 5-10 tahun gejala yang lebih serius terjadi dan orang bisa meninggal karena kegagalan fungsi hati yang masyarat sering menyebutkan Lever.
Leluhur kita sudah sangat jauh dalam berpikir untuk membuat nama baiknya dan keturunannya mendapatkan kemuliaan dimasyarakat, sehingga petuah-petuah ini dituliskan dalam sebuah prasasti yang kini sudah disalin dalam sebuah buku-buku dan sumber asli masih tersimpan rapi dimuseum. Kita sebagai generasi penerus harus selalu mengamalkan apa yang menjadi petuah leluhur. Dalam berkeluarga juga harus menjaga rasa kekeluargaan, dengan saling memahami, memaafkan kesalahan saudara, menjalankan dharma agama, bhakti kepada leluhur, taat kepada moral agama dan aturan hukum yang berlaku.
Sekian dulu tulisan ini saya buat semoga bermanfaat!!!
Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar